Tuberkulosa sering disingkat TBC (karena ada yang ngeri menyebut TBC kadang disebut penyakit tiga huruf) merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal manusia…. Temen lama…atau musuh lama ??? Pada peninggalan Mesir kuno sudah digambarkan bagaimana seorang kena TBC tulang belakang. Kuman penyebab TBC ditemukan oleh Robert Koch sekitar 100 tahun yang lalu, namun sampai sekarang penyakit ini masih menjadi masalah terutama di negara berkembang. Indonesia merupakan peringkat ketiga sebagai penyumbang kasus TBC terbanyak di dunia…..giliran nyumbang …. penyakit yang disumbangin
TBC pada anak berbeda dengan orang dewasa ……
Pada anak gejala yang muncul tidak sama dengan orang dewasa, sebagaimana dikenal TBC sering dihubungkan dengan batuk dan batuk darah pada orang dewasa. Namun pada anak gejala batuk bukan yang utama, gejala TBC pada anak :
1. Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi.
2. Nafsu makan tidak ada disertai gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat.
3. Demam lebih dari 2 minggu dan atau berulang tanpa sebab yang jelas, dapat disertai keringat malam. Demam umumnya tidak tinggi.
4. Pembesaran kelenjar limfe yang tidak sakit dan biasanya multiple (lebih dari satu).
5. Baruk lama lebih dari 3 minggu dan sebab lain sudah disingkirkan.
6. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
Walaupun organ yang paling sering kena TBC di paru tapi organ lain seperti kelenjar limfe, selaput otak maupun otak, tulang dan sendi, kulit, mata, selaput usus dan ginjal juga bisa kena. Penularan terjadi melalui percikan ludah dari orang dewasa yang menderita TBC. TBC pada anak tidak menular kecuali anak tersebut menderitaTBC milier atau TBC tipe dewasa. Jadi kalau ada anak kena TBC yang perlu dicari adalah sumber penularannya, bisa orang yang serumah atau orang lain yang sering melakukan kontak dengan anak tersebut.
Pemeriksaan ke dokter perlu dilakukan bila ada gejala seperti yang tersebut diatas, pemeriksaan yang dilakukan dokter biasanya pemeriksaan darah lengkap, foto dada dan Mantoux test (baca: mantu tes)… ini bukan tes untuk mendapatkan mantu yang baik dan benar
Dengan hasil pemeriksaan baru dokter memutuskan apakah si anak menderita TBC atau tidak
Pengobatan TBC berlangsung selama 6 bulan kecuali TBC tulang, TBC otak….pokoknya yang berat…. bisa sampai setahun
Intermezzo: Ada pasien dewasa cerita pada saya bahwa dia selalu minum obat TBC bila batuk, kira kira 3-4 hari udah enakan terus berhenti…lha kok bisa dapet??? Ya beli bebas di apotik… haaiiiii para orang yang berwenang …… gimana nih???
Beberapa tahun terakhir mulai muncul TBC yang Multi Drug Resistant (MDR) maksudnya gak mempan diobati dengan 2 obat utama TBC, lha gimana mau mempan wong obat TBC dijual bebas gitu…sama aja dengan memberi imunisasi pada kuman TBC sehingga jadi lebih joooos….ngrusaknya
. Sekarang lebih jauh lagi udah muncul Extreme Drug Resisance (XDR) yang gak mempan terhadap 3 obat utama TBC dan dapat meyebabkan kematian dalam hitungan 25 hari saja. Akhirul kalam saya menghimbau supaya peredaran obat di Indonesia, terutama obat TBC jangan dikacaukan ya…. Kesian masyarakat miskin, yang ditanggung Askskin cuman obat standar.
November 12, 2007 pukul 8:11 pm |
Dok.. saya mau tanya niy..
Beda antara TBC, dengan Pneumonia, Paru – Paru Basah & Flek di paru – paru.. hhmm kalo banyak orang bilang itu sama saja?
apa iya Dok?
(^_^) Salam Kenal,
Aprilia
November 13, 2007 pukul 2:01 am |
DOTS kayak’e dah g efektif….
MDR deh..lha wong INH aja minumnya kadang g da yg ngawasi…
paling enak masukin sanatorium atau pake teknik DRiFT (Digital Ring Fence Technology) yg pernah dpakai Prof.KC Lun (Singapore & Hongkong) untuk mengatasi wabah Flu burung & SARS..tp Indonesia mana bisa (Atau belum bisa?).
November 13, 2007 pukul 4:14 am |
menunggu makin me’wabah’nya MDR
hayoo..yg jualan..yg ngresepi ‘over’ jg..
November 13, 2007 pukul 7:44 am |
Padahal obat TBC masih gratis di Puskesmas kan dok? Dulu waktu masih di puskesmas, pernah ada laporan obat TBC habis tapi kasus baru ga ada.. jadi bingung.. eh rupanya dipake ngobati batuk pilek biasa sama petugas di desa… mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan tapi petugas di desa adalah ujung tombak keberhasilan program dan mesti di bantu untuk mendapatkan informasi terbaru dan benar sehingga bisa melayani masyarakat secara maksimal… sory dok jadi ngelantur…
November 13, 2007 pukul 9:46 am |
@binchoutan
Ya gak sama, cuman dimasyarakat idah terlanjur biasa bikin istilah kayak gitu. Kalo ditanya definisinya juga gak jelas. TBC dan pnemonia gak sama, walaupun sama sama infeksi pada paru tapi kuman penyebab berbeda.
@Sibermedik
sebenarnya pada pasien TBC anak otomatis DOTS sejak dulu, lha anaknya kan belum bisa minum sendiri, yg ngasih ortu atau pengasuhnya.
@dani iswara
Hayooooo…..
@Ady
Ya gitu deh….tapi yg besar juga masalahnya adalah apotik yg selalu menjual obat daftar G secara bebas. Kalo ada petugas yaaa… main mata aja. Jadi peredaran obat jadi gak karuan, akibatnya resistensi obat meningkat
November 13, 2007 pukul 10:35 pm |
he..he..lupa..SiberMedik ngadepin Sp.A bkn Sp.P…sorry Boz…
“Karena Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa”
November 14, 2007 pukul 2:15 am |
Yah… orang Indonesia emang pinter2x.. make obat semaunya :d.
November 14, 2007 pukul 9:50 pm |
@sibermedik
gak apa apa, namaya juga lupa
@huda
pinter atau nekat…. ??? atau lebih cocok ngawur kali ya
November 15, 2007 pukul 4:11 pm |
duh paragraph yang terakhir menakutkan sekali
November 16, 2007 pukul 4:29 am |
haiyahhh..komentar Huda menohok saya sekali..haha
November 16, 2007 pukul 6:00 am |
Kulonuwun, Dok…
Mau tanya lg dok. Utk mendiagnosa TBC positif (spy tidak keliru dgn penyakit lain, krn gejala2nya agak2 rancu dan juga spy obat2an TBC hanya diberikan benar2 utk penyakit TBC spy tidak resistent…hehehe), apakah cukup dgn test Mantoux, rontgen dan test darah. Hmm, test darah ini apakah sama dgn pembiakan sputum (kultur dahak) yg konon ktnya hrs dilakukan 3 kali utk mendapatkan hasil yg absah (positif/negatif)?
Mohon penjelasannya, dok, krn msh agak rancu mengenai hal ini.
Trus, test ini apakah bisa dilakukan di puskesmas2 yg ada?
Matur nuwun sblmnya atas penjelasannya,
salam,
mboknebagas
November 16, 2007 pukul 7:41 am |
salam kenal dok. kulo angga mamaeza
ikutan tanya dung, putriku za 6m udah imunisasi BCG sminggu setelah lahir. dan untuk imunisasi mulai dari wajib sampai rekomendadi Dokter Indonesia selama ini belum ada yang terlewatkan kecuali IPD karena baru tau soal IPD beberapa bulan kemarin dan dsa anakku menyarankan untuk IPDnya setelah HiB 3 atau usia 7m nanti. Nah pertanyaanku bayi yang sudah diimun BCG masih mungkinkan terkena TBC. Karena ada kasus nih, tetangga sebelah rumah gosipnya serumah kena paru2, ga tau TBC atau apa yg pasti penyakit paru2. Nah tetangga lain menyarankan untuk menjauhkan putriku dari orang itu,kasian tertular kan masih bayi gitu kata orang – orang, padahal orang itu baik sekali dok. Dan sebenarnya saya percaya anak saya ga akan apa2 karena sudah diimun BCG. Tapi kadang jadi was – was klo ingat gimana ganasnya TBC. Jujur saya ga suka pilih – pilih tetangga. Apa mungkin dok anak saya bisa tertular walaupun sudah diimun ? sedangkan saya pernah kenal satu kluarga yang +TBC tapi anakknya sehat kok ga kena padahal itu anak kontak langsung dengan penderita bahkan setiap hari tidur bareng. Mohon saran terbaik dok
Warm Regards
m.a.m.a.e.z.a
November 16, 2007 pukul 10:22 pm |
@almascatie
emang itu wacana yang sedang berkembang saat ini
@mei
lha kok tertohok ??? karena orang Indonesia atau karena urusan obat
@mbokne bagas
Standart utama pemeriksaan TBC emang dari dahak, apabila dahak ada kuman TBC maka pasti TBC. Tapi pada anak jarang bisa meludah karena kalo berdahak biasanya ditelan jadi sulit mengumpulkan dahak, jadi harus dimasukkan selang ke lambung untuk mengambil dahak selama 3 hari berturut turut. Itupun angka keberhasilan mendapatkan kuman cuman 30%. Makanya pemeriksaan dengan mantoux test, foto dan darah dilakukan untuk mendekati diagnosa karena pemeriksaan dahak pada anak tidak rutin dilakukan. Pada dewasa standart pemeriksaan sputum wajib dilakukan karena mencari dahak mudah. Mantoux test tidak ada di puskesmas kecuali menyediakan sendiri.
November 16, 2007 pukul 10:32 pm |
@mamaeza
prinsipnya TBC pada anak tidak menular, keculai bila bentuknya TBC millier atau TBC anak yg tipe dewasa, TBC milier biasanya anaknya sakit parah, sedangkan tipe dewasa biasanya pada anak umur 11th keatas. Untuk mengetahui secara pasti ya mesti nya dokternya yg tahu. Secara umum bila ada anak terkena TBC yg pertama harus dicari adalah sumber penularannya karena umumnya TBC pada anak tidak menular tapi ditulari. BCG bukan berarti pasti tidak kena TBC, angka proteksinya 80%, sedangkan angka angka proteksi untuk komplikasi TBC mendekati 100%. Jadi bila anak diberi BCG masih ada kemungkinan kena TBC, tapi pasti lebih ringan dan tidak kena komplikasi. Sejak BCG diterapkan pemerintah angka kesakitan TBC menurun dan kompliksai TBC seperti TBC tulang, ginjal, mata dll jadi jarang timbul. Ttg anak yg gak kena TBC biarpun ortu TBC banyak faktor yg mempengaruhi, bisa jrn BCG, juga imunitas anak cukup baik.
November 25, 2007 pukul 11:41 am |
Tempat kami,setiap anak batuk lama trus nyasar ke salah satu sejawat yg hobi mendakwa TBC, bisa dipastikan dapat 6 bulan-9 bulan-12 bulan-2 tahun, wa akhirul kalam … batuk lagi … ada 2 yg gitu Mas … hehehe
Desember 8, 2007 pukul 7:42 am |
Mau tanya dok, di puskesmas, kami memakai sistem skoring tb paru anak. Bila skor 6 ke atas, kami ikutkan program.
Yang kami tanyakan, bagaimana evaluasi hasil pengobatan yang benar? Sejauh ini yang kami pakai sebagai pedoman, adalah bb anak yang meningkat, nafsu makan meningkat, menjadi jarang sakit, dan mengecilnya ukuran kgb colli.
Ada yang kgb collinya menjadi hilang sama sekali, ada yang masih cukup besar dan banyak.
Sementara ada informasi dari seorang prof, bahwa patokannya adalah sampai kgb colli hilang sama sekali, bahkan kalau perlu bisa sampai 2 tahun.
Sedangkan dari pengalaman kami sendiri, bila program kami hentikan 6 bulan, tnp memperhitungkan ukuran kgb collli, beberapa pasien kembali batuk dan bb tidak mengalami kenaikan.
Mohon penjelasannya, dan terima kasih sebelumnya.
Desember 13, 2007 pukul 5:03 pm |
kalo sesuai dengan penelitian yg ada dikatakan bahwa kelenjar limfe setelah diobati tidak mengecil kembali ke ukuran normal selama beberap bulan bahkan beberapa tahun. Yg penting proses infeksinya udah berhenti, bisa diperkirakan dengan memeriksa LED. Emang gak akurat sih tapi lumayan buat di puskesmas. Pengalaman saya bila masih tampak aktif OAT dilanjutkan sampai 9 bulan dan hasilnya baik. Kalo masalah pendapat profesor ya boleh boleh aja tapi dengan trend evidence based medicine yg sekarang banyak dianut dikatakan bahwa pendapat seorang ahli level kpercayaannya paling rendah dibanding penelitian, terutama yg RCT. Pengalaman beliau beliau emang banyak dan bagus bagus, tapi penelitian secara sistematis yg punya nilai untuk rekomendasi. Batuk gak mesti karena TBC, sebagian besar anak TBC tidak disertai batuk jadi perlu dicari kausa batuk yg lain sedangkan untuk BB sama juga. Jangan lupa cari sumber infeksi TBC karena kalo yg diobati cuman anaknya tapi sumber penularan tetep ada yaaaaaaa sama aja. semoga jawaban ini bisa membantu
Januari 29, 2008 pukul 2:47 pm |
salam kenal dok,
wah, seneng bisa nyasar kesini. Sama senengnya ketika saya nyasar masuk ke blog anak kecil berumur 7 thn yang jago menulis (blog Aurelpenuliscilik.wordpress.com… wah ini anak hebat… sama hebatnya dengan ketemu blog ini… hehehe)
Tadi lagi nyari istilah kelainan yang diidap oleh orang dewasa yang suka pada anak kecil (pedofilia bukan???)… tapi nyasar kesini, dan merasa beruntung karna menemukan LEBIH dari apa yang saya cari…
Makasih dok… kapan2 mampir yach…
–sil–
Januari 29, 2008 pukul 3:22 pm |
@Silly Stupid
Salam kenal, seneng juga dapet tamu di blog ku
Februari 13, 2008 pukul 4:12 pm |
dok, gua divonis kena tbc, gua sendiri bingung kok bisa kena ya?
apakah gua tbc gara2 pas batuk gua makan sembarangan sehingga kena ke paru2?
makasih dok.
Februari 15, 2008 pukul 3:09 pm |
@kena tbc
di negara barat atau negara maju penularan tbc sering dikaitkan dengan adanya keluarga yg sakit tbc. Tapi di negara yg penyakit tbc termasuk hiperendemis seperti Indonesia penularan tidak harus ada keluarga yg sakit, kontak erat dengan orang lain baik itu tetangga, teman, dll. Kalo batuk pas makan sembarangan tidak menimbulkan tbc karena penularan tbc selalu melalui droplet (percikan ludah) yang keluar saat batuk atau berbicara.
Juni 1, 2008 pukul 3:58 pm |
Boleh tanya dok…
klo gejala tbc otak dan tbc kulit apa ya? Terima kasih…
Juni 4, 2008 pukul 3:43 pm |
@rita
TBC otak gejala yang muncul biasanya kejang, tapi bisa juga dimulai dari nyeri kepala hebat disusul gejala penekanan intrakranial seperti muntah hebat tanpa dipicu sakit yang jelas seperti diare dll. Kalo TBC kulit biasanya muncul berupa luka pada kulit yang sulit sembuh, berulang. Semua kelainan harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang yang mendukung kearah diagnosa TBC.
Januari 15, 2009 pukul 12:27 am |
dok,kalo dah imunisasi BCG,trus dah kena TB, dan dah diobatin sampe tuntas (6 bln, dinyatakan sembuh oleh dokter), apakah kemungkinan kena TB masih besar?
Januari 15, 2009 pukul 12:51 am |
@nissa
Yang penting sumbernya gak ada lagi, kalo masih ada sumber penularnya yaaa….gitu deh. Btw anak tidak menjadi sumber penular, tapi orang dewasa yg jadi sumber. Nyari orang dewasa yg mana ? nah itu juga rada repot karena Indonesia masih jadi negara dengan TBC terbanyak ke 3 di dunia. Gambarannya ketemu orang di bemo, tukang sayur, orang di mall dll mungkin mereka kena TBC dan bila tidak diobati sambil menularkan ke orang lain.
Januari 19, 2009 pukul 4:42 pm |
Dok, saya mw th ne
abg saya kemarin bru didiagnosa punya penyakit TBC kulit
awal nya dia bermasalah karena paru_paru basah.
biasa nya penyakit tbc kulit ini dapat bersih total g? setelah pengobatan?
saat ini, dia rutin minum obat selama 6 bulan, kira2 da efek samping g buat kesehatan nya setelah mengkonsumsi obat itu?
tapi saya juga kurang tahu jenis obat yang diminum nya. mohon saran nya
NB: bls k email saya z y dok
terima kasih
Januari 21, 2009 pukul 5:17 am |
@wulan
udah saya jawab lewat email