Imunisasi….. Riwayatmu

Awalnya mau posting tentang screening pada bayi baru lahir tapi pertanyaan dari pak Akhmad Murtajib memberi dorongan untuk menulis tentang imunisasi. Lha apa imunisasi itu masih perlu ??? atau udah gak perlu lagi ??? Yaaaaaaaaaaaa………………. gini penjelasannya

Sampe saat ini belum pernah saya temui orang tua menemui dokter untuk mengucapkan: “terima kasih pak dokter karena imunisasinya anak saya sehat sampai saat ini” … lha apa dokter minta ucapan terima kasih ?!…enggak kok tadi itu cuma gambaran bahwa setelah di imunisasi orang tidak merasakan bahwa setiap ada penyakit masuk tubuh secara otomatis menolak penyakit tersebut sehingga dia selalu sehat.

Setiap bayi baru lahir dikaruniai kekebalan terhadap penyakit yang didapat secara alamiah dari ibunya, maksudnya misal aja bila ibu pernah sakit campak maka tubuh ibu membentuk kekebalan seumur hidup yang juga dipindahkan pada si bayi pada saat kehamilan. Kekebalan jenis ini disebut kekebalan pasif, tapi kekebalan ini tidak berlangsung lama. Nah..kalo kena penyakit maka tubuh akan membentuk kekebalan untuk mencegah penyakit terulang lagi (tapi tidak semua penyakit gitu)….Kekebalan yang didapat karena kena penyakit disebut kekebalan aktif, cuman yang jadi masalah bila saat kena penyakit timbul komplikasi, kecacatan bahkan kematian. Orang jadi berpikir untuk memunculkan kekebalan dengan kuman atau virus yang dilemahkan sehingga tidak terlalu sakit tapi masih bisa menimbulkan kekebalan..itulah yang disebut imunisasi. Diambil dari bahasa latin imun yang artinya kebal.

Sesuai program WHO sejak tahun 1979 Indonesia ikut menyelenggarakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI), pada awalnya diprogramkan BCG, DPT, dan Polio kemudian ditambah Hepatitis B. Vaksin yang masuk dalam program PPI ini diberikan secara gratis. Vaksin yang tidak masuk PPI apa gak penting ? Ya penting juga, cuman belum masuk prioritas pemerintah dan harganya mahal sehingga…..bayar sendiri aja L. Imunisasi yang berhasil memberantas penyakit secara total adalah cacar, hingga dunia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1980.

Sebenarnya imunisasi meningkatkan kekebalan sehingga kalo ada kuman atau virus tidak menimbulkan penyakit….tapi kumannya kan tetap ada dilingkungan kita. Kalo gak imunisasi ya bisa kena lah… Saat Tsunami di Aceh begitu banyak penderita tetanus hingga Medecins Sans Frontieres (MSF) program utamanya mencegah dan mengatasi tetanus setelah Tsunami. Ada satu desa X di salah satu kepulauan Nusantara yang menolak imunisasi, suatu saat timbul wabah difteri yang merenggut banyak nyawa, seluruh desa harus diobati dan pencegahan penyebaran harus dilakukan. Mestinya kalo mau diimunisasi maka tidak perlu ada korban… kemudian di tempat itu juga muncul outbreak polio yang konon termasuk tingkat dunia (sampe orang WHO dateng lho). Lha kalo udah gini jadi merepotkan dan merugikan banyak orang.

Intermezo tapi penting: Saat terjadi outbreak di desa X maka Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi turun ke Kabupaten….ketemu dengan Kepala Dinkes Kabupaten yang ternyata adalah seorang SH, dengan tidak bermaksud merendahkan SH tapi pada saat rapat penanganan wabah si doi mlongo sambil ngiler aja lha wong gak ngerti. Semua pada ribut mencari jalan keluar si doi bingung mau keluar kemana yaa😀 . Usut usut ternyata itu hasil pembagian “jatah” setelah pemilihan kepala daerah kabupaten….. Inilah negara kita ….. merdeka…atau mati kena wabah😀

Pada saat imunisasi berhasil muncul kelompok yang merasa imunisasi tidak perlu karena mereka tidak melihat perlunya…ya iya lah ..lha wong belum pernah kena wabah, ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia. Ini jadi masalah karena akan menimbulkan outbreak di daerah tertentu dan bisa aja menyebar… Ada yang protes nih: gimana dengan bayi yang mati setelah imunisasi..ada yang kejang…dll. Emang promosi imunisasi berlebihan, imunisasi dibilang tidak punya efek samping. Tujuannya supaya tidak ada penolakan dari masyarakat terhadap imunisasi, soalnya kalo dibilang ada efek samping nanti malah repot menerangkan pada masyarakat level bawah. Tapi efek samping yang timbul termasuk kecil, apalagi dibanding manfaatnya. Setelah diusut lebih jauh, kejadian – kejadian yang katanya akibat imunisasi, ternyata tidak semuanya merupakan efek samping imunisasi, tetapi lebih pas kalo disebut dua kejadian yang terjadi pada saat yang bersamaan.

Aduuuh kayaknya kalo dibahas satu kali posting gak cukup jadiiiii … lebih baik dibuat bersambung aja deh…… biar yang baca juga gak klenger….yang bikin juga maksudnya … he….he..he

37 Tanggapan to “Imunisasi….. Riwayatmu”

  1. Astri Says:

    Pertamax😀
    Imunisasi itu penting bapak2 dan ibu2… PPI dan non PPI semuanya dianjurkan.

  2. almas Says:

    wah ini kado perkawinan tadi ya?
    sipp KEDUAXX

  3. almas Says:

    Usut usut ternyata itu hasil pembagian “jatah” setelah pemilihan kepala daerah kabupaten…..

    untung wabah penyakit ga dibagikan sebagai jatah juga kalo ga bisa mampos semua kita2 ini ya

  4. mei Says:

    Ning gak aku ikutan imunisasi MMR , karena ada beberapa pendapat yang mengataan kalau imunisasi ini bisa memudahkan anak terkena autis. tapi yang bikin bingung, bukannya autis itu genetik?? Searching di internet tambah bingung, juga teman-teman tak membantu, tiap ke DSA juga selalu lupa nanya…bagaimana tuh dok??

  5. evi Says:

    nasywa, anak saya sebelum imunisasi campak sudah kena campak duluan tertular ayahnya. saya bingung dokter, masih tetap hrs imunisasi campak atau tidak? katanya klo sudah kena penyakitnya akan kebal dgn sendirinya.

    dan saya pernah baca satu arrtikel ktnya lebih baik MMR drpd imunisasi campak, lah gmana ini…..?
    usia nasywa minginjak 20 bulan.
    maturnuwun pak dokter….

  6. bakhrian Says:

    Salam kenal.. sekalian mohon ijin untuk nge-link blognya..🙂

  7. dokterearekcilik Says:

    @almas
    lha itu baru satu daerah…kalo 20 kabupaten bareng bareng gak karuan apa wabahnya gak nyebar sampe mana-mana… soal kado emang bener…..minta disuntik dimana ? kepala atau leher…cak moki cepet pegangin almas supaya gak lariiiiii

    @mei
    penelitian ttg hubungan autis dengan MMR secara statistik tidak terlalu bagus…tidak bisa ditentukan hubungannya, tapi udah terlanjur menyebar beritanya. Para dokter juga kuatir disalahkan jadi Ikatan Dokter Anak Indonesia mengambil keputusan tetap dilakukan tapi dengan informasi serta inform consent yang baik

    @evi
    kalo udah kena campak tidak usah imunisasi campak..asal bener bener campak..yaitu panas disertai, batuk, pilek, mata merah serta bercak kemerahan yang kemudian berubah kehitaman dan hilang setelah 2-3 minggu. kalo gak gitu diragukan ke campak annnya🙂 MMR lebih baik karena mencakup juga campak jerman dan gondong

    @bakhrian
    monggo….bisa di link

  8. imcw Says:

    pemerintah kayak sedang lesu darah saat ini ngurus yang beginian…

  9. sibermedik Says:

    kenapa gak ngaktifin posyandu lagi?
    jadi pingin mbalik k jaman Mbah Suharto (ORBA)..bisa dapet award bebas cacar taon 70-an..inget gak??

  10. mei Says:

    @sibermedik, posyandu masih aktif khok cuman yang aku lihat peran serta masyarakatnya yang sudah sangat kurang. buktinya waktu aku pulkam di daerah kediri, pas ada posyandu..anak-anak pada berdatangan dan di timbang. Dan juga di wilayahku tinggal sekarang, daerah Bintaro, suka ada juga..kadang aku dapat lporan dari asisten, katanya habis di timbang dan di kasih bubur kacang ijo. Cuman gak tau apakah itu masih masuk dalam penanganan pemerintah ataukan atas inisiatif ibu2 yang tinggal dalam lingkungan tertentu…

  11. dokterearekcilik Says:

    @imcw
    sebenernya program imunisasi dari pemerintah tetep jalan kok

    @sibermedik
    Posyandu emang rada rada klenger tapi sekarang pak SBY udah menginstruksikan untuk diaktifkan kembali

    @mei
    info yang kadang membingungkan membuat sebagian masyarakat tidak rajin ke posyandu… mungkin perlu promosi tentang perlunya datang ke posyandu dan penimbangan secara berkala…thanks udah dibantu jawab

  12. ndarualqaz Says:

    orang sebenernya gak mau imunisasi karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah sendiri, apalagi istilah imuisasi pake sasi-sasian di belakang, bikin orang takut. Coba namanya suntik tolak penyakit, ato ajian tolak cacar dan nama yang agak tradisional, pasti orang kecil pada mau tuh di imunisasi…. hehehehe

  13. Ady Says:

    Posyandu di Desa masih jalan kok, sedangkan di kota sudah pada ke praktek pribadi.. sehingga di kota2 besar banyak posyandu ga jalan. Yang mengkhawatirkan adalah orang2 di kota yang kurang mampu ke praktek pribadi sedangkan posyandunya tidak jalan.. Gimana tuh ya…

  14. Kobal Sangaji Says:

    wah ruwet imunisasi karena he he…belum faktor cold chain, juru imunisasi, budya lokal…pokoke ruwet mas kalo aku rapat karo dinas wes mumet…deh matur nuwun sudah mampir…..

  15. dokterearekcilik Says:

    @ndarualqaz
    apa enaknya dinamai suntik tolak angin ….. biar tambah laku🙂

    @Ady
    Iya , bener….dikota malah agak sulit

    @Kobal Sangaji
    terima kasih atas kunjungan balasannya🙂

  16. cakmoki Says:

    ::: gak serius mode ON* :::
    … jangan kuatir, Posyandu saat ini makin aktif koq, dikunjungi orang penting segala, bawa bingkisan, uang pembinaan dll. Sayangnya hanya 5 tahun sekali, saat menjelang pilkadal … paraaahhh, Posyandu dijadikan sasaran suntikan oleh tim sukses …
    ::: gak serius mode OFF* :::

    di daerah kami sudah lama ga ada lagi PWS (pemantauan wilayah setempat) imunisasi per-kelurahan yg ditayangkan di tingkat II oleh Camat didampingi dokter … apa ini terjadi di daerah lain ? kalo iya, mengapa ? … tanya kenapa

    ah iya mas, beberapa tahun yg lalu pernah rame masalah penolakan terhadap imunisasi. surat berantai yg dikirimkan itu pernah saya cek, dan ternyata “bohong belaka”, kronologisnya loncat-loncat, ngawur … maklum, orang indonesia kan seneng yang melas-melas, jadi gak kober ngeliat urutan kejadian, langsung percaya ajah begitu baca bagian “melas” dan … masih lebih senang nunggu bukti ada outbreak (jatuh korban) ketimbang mencari informasi yang benar …

    saya mo nulis bagian pws ya … *kalo sempat*😀

  17. Erik Tapan Says:

    Wah, artikel-artikelnya sangat populer.
    Terus berkarya yha.
    Selamat.

  18. mataharicinta Says:

    dok, boleh usul gak?
    sebenernya lebih cenderung minta tolong sih:)

    tolong donk, dok….
    buat postingan tentang penyebab tumor payudara, pantangan-pantangannya, cara pengobatannya, terus gejala-gejalanya.

    ya dok ya………………….

    *ngarep*

  19. sibermedik Says:

    @ Cak Moki et all,.
    Tetep semangat…

  20. uci, where are you ? « cakmoki Blog Says:

    […] atau Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) adalah piranti untuk mengetahui realisasi pencapaian imunisasi dalam rangka terwujudnya Universal Child Immunization […]

  21. vino Says:

    bahas imunisasi buat calon mempelai pria wanita yah
    *heheh*

  22. Nayz Says:

    saya dari SBY gak pernah imunisasi . Lupa begitu ya ….

  23. Nayz Says:

    lho kok nulise SBY , salah bayi maksute

  24. dokterearekcilik Says:

    @vino
    Boleh juga usulnya

    @Nayz
    Alhamdulillah…..

  25. Gerda Silalahi Says:

    dokter, apa khabar. mohon bantuannya.

    saya membaca bahwa menurut rekomendasi IDAI, imunisasi HIB diberikan 4 kali (2 ,4, 6 dan 18 bulan).

    sementara anak saya, christabelle (sebentar lagi 3 tahun) hanya mendapat imunisasi HIB sebanyak 3 x sesuai dengan jadwal di buku imunisasi nya dari RSB asih.

    yang saya mau tanyakan, apakah anak saya perlu diberikan HIB ke-4 ?? sebab menurut RSnya, sekarang ini mereka sudah mengikuti jadwal imunisasi baru dengan 4 x HIB.

    mengutip keterangan IDAI
    “Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan.”

    apakah ACL HIB itu sama dengan HIB OMP? dan dengan demikian anak saya (anak saya mendapat ACL HIB) tidak perlu mendapat HIB ke-4 karena Hib 3 memang tidak perlu diberikan??

    saya agak bingung. membaca di website group sehat, tertulis jadwal Hib adalah:

    “Semua bayi berumur 2, 3 dan 5 bulan perlu diberi imunisasi Hib Imunisasi Hib diberikan sebanyak 3 dos. Umur Dos: 2 bulan Dos 1, 3 bulan Dos 2, 5 bulan Dos 3” Yang mana yang harus diikuti? 3 kali atau 4 kali?

    Ditunggu jawabannya. Thanks banget yah dok.

  26. dokterearekcilik Says:

    @Gerda Silalahi
    Maaf baru jawab…maklum baru pulang dari luar kota🙂
    Ada 2 jenis imunisasi Hib, yaitu PRP-OMP yg dibuat dari konjugasi membran kuman N. Meningitidis, dengan merek Ped*** Hib, diberikan 2 kali suntikan dengan interval 2 bulan. Sedangkan satunya lagi PRP-T yg dibuat dari konjugasi toksoid tetanus, merek yg ada di Indonesia Act-H** dan Hiber**, diberikan 3 kali suntikan dengan interval 2 bulan. Efikasi & keamanan sama aja. Tapi titer antibodi lebih lama bertahan yg PRP-T. Kalo yg 18 bulan itu booster atau penguat untuk menaikkan imunitas, jadi masih perlu untuk mempertahankan imunitas ananda. jadwal mulai umur 2 bulan. jadwal yg sesuai bisa liat di halaman download

  27. abblett Says:

    wah asyik juga ya. memang tiap negara punya polisi ..eh.. policy imunisasi yang berbeda tergantung kebutuhan. penyakit menular dapat masuk ke anak yang sehat, kuat, makan cukup. mengapa? ya karena nggak kebal. makanya imunisasi perlu, ya kan dok?? salam deh buat semua.

  28. dokterearekcilik Says:

    @ablett
    Terima kasih udah mampir ke blog saya… sebagai murid saya mengharapkan koreksi dari pak guru saya 🙂

  29. NuDe Says:

    Alhamdulillah, posyandu di kompleks perumahan saya sangat aktif, termasuk serng langsung memantau kondisi lngkungan sekitar. anak say kalau nggak dibawa ke pos pun biasanya ditanyain kenapa. sampa pada saat penjatahan vt A pun diantar ke rumah, karena saat itu pas berhalangan hadir.

  30. joulepondokbaru Says:

    imunisasi sangat diperlukan untuk mdptkan kekbalan tubuh bagi seorang anak. jadi saran dr saya … jangan lp untk membawa anak anda untuk diimunisasikan agar masa depan anak tdk suram. trims

  31. dokterearekcilik Says:

    @NuDe
    Senangnya denger posyandu aktif🙂

    @joulepondokbaru
    Ayo imunisasi😀

  32. bambangedi Says:

    Saya sering sedih dan gemez karena masih ada teman2 yang anti imunisasi karena 1)mengandalkan imunitas umum 2)ragu2 kehalalan vaksin maupun 3) takut efek sampingnya. Lalu saya tulis motto : imunisasi: hak anak, kewajiban orang tua. Manfaatnya terbukti, madharatnya hanya issue. Kan banyak penyakit yang kejadiannya maupun kematiannnya sangat berkurang sejak ada program imunisasi. Bagitu Dok ?

  33. dokterearekcilik Says:

    @bambangedi
    Senang dikunjungi teman sejawat yang juga aktif di dunia maya. Emang masih ada aja orang yang gak setuju dengan imunisasi dengan berbagai alasan, tapi benar seperti dokter bambang bilang, bila manfaat lebih besar mestinya kita tidak menolaknya. Semoga kita bisa kontak secara offline bila ada acara. Saya udah mampir ke blog dr. Bambang…..bagus sekali lho

  34. nissa Says:

    dok,anak saya waktu bayi dah di imunisasi BCG. tapi ternyata waktu umur 11 bln terkena TB juga. gmn ya dok? trus temen saya ada yang anti imunisasi. anaknya sekarang dah 1 th tp ga pernah diimunisasi. katanya pembodohan dsb. panjang lah ceritanya. intinya itu akal2an untuk menghancurkan indonesia (berat juga ya..). apalagi waktu tahu anak saya dah imunisasi BCG tapi tetep kena TB, dia bilang curiga kena TB dari imunisasinya. mslhnya sampai sekarang satu rumah dah periksa (rontgen), ga ada yang kena TB. jd ga tahu tertular siapa. sebenernya saya ga setuju ama pendapatnya, dan masih ngasih imunisasi anak saya, cuma kalo tiap mau nganter imunisasi, tegangnya jadi ga karuan. trus imunisasi apa ga masuk PPI itu karena kasusnya jarang terjadi atau karena penyakitnya ga terlalu berbahaya?

  35. dokterearekcilik Says:

    @nissa
    Semua imunisasi tidak mencegah penyakit 100%, rata rata 95-98%. Yang 100% cuman Yang Maha Kuasa, namanya manusia cuman bisa usaha tp kan lumayan. Kalo udah BCG tapi kena TBC ada beberapa sebab, pertama kualitas vaksin yang kurang baik karena berbagai hal, kedua imunisasi BCG mencegah komplikasi TBC seperti TBC tulang, TBC otak, TBC ginjal, TBC usus mendekati 100%, namun untuk TBC paru hanya 80%. Hal ini masih diterima oleh pemerintah karena menurunkan angka kematian TBC cukup signifikan. TBC pada anak pasti tertular orang dewasa, namun harus disadari di Indonesia merupakan negara endemis TBC, kalo ketemu tukang sayur, tukang ojek, penjual di pasar kemungkinan TBC tetap ada. TBC karena BCG sampe saat ini tidak ada bukti ilmiah. Kalo imunisasi non PPI karena pemerintah gak sanggup subsidi, kalo mewajibkan imunisasi konsekuensinya pemerintah subsidi untuk seluruh anak di Indonesia, lha kalo lagi bokek ya subsidi yang paling bahaya dulu aja.

  36. artha Says:

    apakah dengan imunisasi 99% akan sehat..?

  37. Ani Rahayu Says:

    Berbagi informasi seputar perawatan bayi sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: