Hipotesis Higiene

Aslinya bernama Hygiene Hypothesis, tapi saya maksa diterjemahkan jadi Hipotesis Higiene. Gak tahu bener atau tidak, kalo ada ahli bahasa yang baca tolong perbaiki terjemahannya πŸ™‚Β  please. Hipotesis ini ramai dibicarakan sejak tahun 1990 an, tapi ini masih hipotesis lho, belum jadi teori. Jadi ini merupakan upaya manusia mencari akar suatu masalah, makanya jangan dipake sebagai patokan tapi ambillah sebagai pengetahuan tentang perkembangan dibidang kesehatan …..inilah………….

Siapa juga yang gak tahu kalo kebersihan itu penting, sampai ada pepatah “kebersihan pangkal kesehatan”. Yang namanya pemerintah sampe menggalakkan kebersihan secara besar besaran demi menjaga kesehatan masyarakatnya. Dirumah segala macam kotoran dibersihkan, lantai harus kinclong dan tidak ada kuman….pake obat pel yang ada antiseptiknya biar steril. Anak kecil udah diajari yang namanya cuci tangan, mandi, tidak makan makanan yang udah jatuh…. mamanya pasti teriak kalo liat ananda main lumpur, . Pokoknya segala hal diupayakan demi kebersihan.

Tapi kadang kita mendengar pembicaraan tentang perbedaan anak yang tinggal di tempat bersih dan kotor. Si A tinggal di rumah yang bersih tapi sakit asma, pilek alergi, sedangkan si B yang tinggal di kolong jembatan atau di kampung malah sehat sehat aja tuh….makanya anak jangan terlalu bersih. Ternyata di barat fenomena ini juga menjadi pembicaraan, tapi disana fenomena bisa jadi penelitian. Kalo disini….ah boro boro mau meneliti, lha wong dana askeskin aja tersendat sendat sampe RSU kelabakan urusan pengadaan obat…eeehh kok jadi melenceng gini…balik ke permasalahan ah….

Pada tahun 1990 an muncul Hipotesis Higiene yang dicetuskan oleh Pak David P. Strachan, hipotesis ini terus berkembang hingga saat ini. Prinsip dari Hipotesis Higiene adalah peningkatan kebersihan akan meningkatkan angka kejadian penyakit alergi dan penyakit yan berhubungan dengan kekebalan. Kurangnya paparan pada kotoran diusia muda akan kurang melatih sistem kekebalan kita. Penyakit alergi misalnya eksim, asma, pilek alergi, sedangkan penyakit yang berhubungan dengan kekebalan misalnya diabetes tipe 1, lupus eritematosus, inflamatory bowel disease….pokoknya penyakit yang berhubungan dengan imunitas. Hipotesis ini mengubah paradigma “kebersihan pangkal kesehatan” menjadi “berani kotor itu baik” sehingga banyak mengagetkan berbagai kalangan.

Berbagai penelitian berkembang, Andrew Liu mengatakan: bukan sekedar fakta bahwa seseorang yang terpapar kotoran dapat mengurangi alergi tapi harus diketahui jenis kotoran yang tepat. Beberapa ilmuwan di Jerman melakukan penelitian dengan lebih dari seribu anak untuk membuktikan paparan dimasa muda bisa berefek protektif untuk penyakit alergi. Ada sebuah studi terkenal yang menyebutkan bahwa salah satu faktor protektif untuk asma adalah memelihara seekor babi di dalam rumah. Kalo di sini bisa juga piara kambing atau sapi πŸ™‚

Lha apa sekarang anak anak gak usah disuruh mandi aja, terus dicemplungin di got aja biar infeksi, atau dilarang cuci tangan aja πŸ™‚Β  rumah tidak usah disapu malah dikasih pasir biar tambah kotor…………..terus piara kambing, sapi dan binatang dirumah biar tambah rame…….horeeee anak anak jadi senang…..rumah jadi kandang deh ha………..ha…………..ha

Ya gak gitu sih… cuman emang ada perubahan keseimbangan akibat perkembangan jaman, industrialisasi, rendahnya tingkat infeksi berakibat imunitas yang berhubungan dengan infeksi jadi kurang berkembang sedangkan yang berhubungan dengan alergi jadi berkembang. Pokoknya ini cuman wacana, jangan terus rumahnya diubah jadi kandang sapi dan ditaburi kotoran. Asal tahu bahwa ilmu terus berkembang dan perubahan selalu terjadi, apa yang kita anggap hari ini baik belum tentu besok juga baik. Mungkin suatu saat hipotesis ini juga terbantah oleh hipotesis lain, tapi yang penting perbaharui terus ilmu kita agar gak ketinggalan. Guyon mode:ON Selamat bikin kandang di rumah…

15 Tanggapan to “Hipotesis Higiene”

  1. Astri Says:

    Soo… mitos ‘belum 5 menit’ bisa diterapkan ya? Tapi sambil tetep siap2 sakit perut πŸ˜€

  2. huda Says:

    Semua yg berlebihan emang gak baik.. termasuk kelebihan bersih πŸ˜€

    Biar kemproh yg penting sehat.. πŸ™‚

  3. almascatie Says:

    arghhhh jadi ingat iklan rinso
    “dalam kotor itu ada belajar”

  4. dokterearekcilik Says:

    @Astri
    boleh dicoba tuh

    @huda
    kayaknya hipotesis ini angin segar buat yg kempro πŸ™‚

    @almascatie
    yaaa..gitu deh

  5. benbego Says:

    Kebersihan itu sebagian dari iman! πŸ˜€

  6. sibermedik Says:

    kalau terlalu hygienis ntar nggak ada antigen untuk paparan buat nglatih pembentukan antibodi dong??
    *Pembenaran mahasiswa jorok*

  7. evi Says:

    terlalu bersih jangan….
    terlalu kotor jangan….
    terus gimana dong….? * bingung*

  8. dokterearekcilik Says:

    @benbego
    bener kok, tapi ini kan cuman hipotesis πŸ™‚

    @sibermedik
    berarti sesuai dong πŸ™‚

    @evi
    masih hipotesis jangan dipikir terlalu dalem, santai aja, siapa tahu nanti muncul hipotesis lain yg membantah

  9. dani iswara Says:

    jd yg ngambil sub spesialisasi alergi bakalan makin laris dong πŸ˜€ [makan2 mode ON]

  10. dokterearekcilik Says:

    @dani iswara
    iya ya…he…..he

  11. sibermedik Says:

    alasan anak FK yang jorok:
    “ngapain cuci tangan?apa dong gunanya imun spesifik & noonspesifik? Makrofag nggak kerja dong?enak aja..dapet nutrisi sel nggak kerja?”..he..he..

  12. win pambudi Says:

    bakteri memang punya bidirectional capasity. dok. kalo banyak dia infeksius tapi kalo sedikit bikin alergi. research paling gres ternyata kuman plak gigi bisa mencetuskan asthma attack ! maka bersyukurlah dokter (anak) yang pasangannya dokter gigi (anak) …

  13. dokterearekcilik Says:

    @sibermedik
    biar imunitas ada kerjaannya

    @win pambudi
    iya, terakhir aku baca emang gitu. Emang kamu jadi bikin penelitian tentang masalah hubungan plak dengan asma ?

  14. mei Says:

    yup, aku nangkep banget dok ulasan kali ini.

    ada anak teman gawe yang super duper steril, tapi anaknya sakit-sakitan..wes pokok’e sakulan ngamar kui mesti. gara2nya cuman panaslah apalah..bukan suatu penyakit yang berat…dibanding anak tetangga yang kemprohnya setengah mati, tapi sehat-sehat aja.

    nah aku-ya ngambil tengah-tengahnya saja. gak kemproh tapi juga ga resikan banget..biar ga jadi obsesif kompulsif..haha, belum 5 menit??ambil lagi, makan..asal jatuhnya gak d comberan..haha

  15. dokterearekcilik Says:

    @mei
    Iya … emang semua kalo terlalu jadinya gak baik πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: