Perhatikan juga anak HIV/AIDS

Dalam rangka menyambut hari AIDS sedunia 1 Desember

Dengan semakin banyaknya para orangtua yang terkena HIV/AIDS serta berkembangnya pengobatan anti retroviral (ARV) yang membuat kualitas hidup semakin meningkat menjadikan kualitas reproduksi meningkat sehingga kemungkinan maupun keinginan untuk mendapat keturunan menjadi suatu hal yang dimungkinkan. Yang mulai terjadi saat ini adalah mulai meningkatnya jumlah anak anak dengan HIV/AIDS, dengan penanganan yang baik dan kerjasama orangtua serta semua pihak terkait angka penularan pada anak memang bisa diturunkan. Namun itu perlu usaha yang cukup bersemangat dari semua pihak agar hal ini dapat terwujud.

Kalo ada ibu hamil dengan HIV/AIDS perlu penanganan yang baik dalam menghadapi persalinan, sama aja dengan manusia lain. Jadi jangan diberikan tekanan baik berupa pengusiran, penghinaan, pokoknya segala hal yang bertujuan penganiayaan. Mereka juga butuh persiapan, bahkan karena beban HIV/AIDS itu membuat beban lebih berat jadi jangan ditambahin lagi. Persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit sehingga penanganan terhadap ibu dan anak bisa paripurna. Lha yang repot kalo ada rumah sakit yang gak mau terima pasien HIV/AIDS, gitu aja kok repot…….ya pindah ke RS lain yang mau terima. Juga jangan dihakimi dulu RS nya , selain mungkin gak mau repot bisa jadi mereka mungkin belum punya fasilitas yang menunjang persalinan atau penanganan HIV/AIDS. Tapi sekarang udah banyak kok RS yang bersedia merawat penderita HIV/AIDS.

Anak yang lahir dari ibu dengan HIV/AIDS perlu dapat pemeriksaan dan penanganan untuk mencegah penularan. Setelah lahir bayi tesebut mendapat perlakuan sama dengan bayi lain, cuman memang perlu pemeriksaan kadar virus (viral load) dalam tubuh. Gak bisa diperiksa dengan pemeriksaan serologis kayak orang dewasa. Karena pada bayi sampai umur 18 bulan antibodi yang dideteksi untuk pemeriksaan serologis kemunginan masih dari ibunya, masalahnya pemeriksaan kadar virus yang lebih akurat ini harganya keren juga alias mahal. Kalo udah urusan ama harga memang pusing karena nyari jalan keluarnya mesti pake duit😦 Tapi para pakar juga ngerti kok bahwa harga sering jadi masalah terutama di negara berkembang…. bilang aja miskin😦 ….. jadi ada beberapa cara untuk mengatasi hal tersebut walaupun tidak seakurat pemeriksaan kadar virus. Pemeriksaan serologis diperbolehkan dilakukan pada anak umur 6 bulan dan bila negatif dua kali berturut turut dengan interval satu bulan bisa dianggap negatif. Tentang penberian obat, bayi dengan ibu HIV/AIDS diberikan pencegahan dengan menggunakan nevirapin saru dosis diserta zidovudin selama 6 minggu sampai 8 minggu. Masalahnya….kok mesti aja muncul masalah ya……. preparat zidovudin tunggal tidak disediakan pemerintah, yang disediakan dalam bentuk gabungan dengan lamivudin (duvi***), padahal kimia farma udah membuat zidovudin tunggal untuk keperluan ini. Gak ngerti deh kalo udah urusan pesen obat jumlah besar ada aja komisinya … masalahnya😦 .

Yang perlu jadi perhatian juga penanganan lebih lanjut dari anak anak ini saat memasuki usia sekolah, masih banyak ada saja sekolah yang menolak punya murid HIV/AIDS, lha kalo gurunya aja masih kayak gitu maka muridnya yang ada di sekolah sejumlah ratusan bahkan ribuan tinggal niru aja. Mau kampanye bahwa HIV/AIDS perlu diberikan perlakuan yang sama tapi kenyataanya……gimana nih bapak/ibu guru, bapak/ibu kepsek ???

Selain itu pemberian imunisasi juga masih belum dilakukan dengan baik pada anak anak dengan HIV/AIDS, padahal sebagaimana anak lain mereka juga berhak mendapat imunisasi kecuali bila ada kontraindikasi. Pernah saya tanya pada satu LSM yang men gurus HIV/AIDS, kebetulan saya tahu ada pasien anak yang diurus mereka, waktu saya tanya gimana imunisasinya……..lha jawabnya kok gak tahu katanya. Pemberian imunisasi ini penting untuk mencegah mereka mendapat infeksi yang serius….karena pada anak HIV/AIDS masalah infeksi yang tidak serius untuk orang sehat bisa jadi serius pada anak HIV/AIDS. Para pengurus LSM yang ngurusi anak HIV/AIDS tolong ya perhatikan imunisasinya anak anak dengan HIV/AIDS, jangan hanya obatnya.

Ya udah dulu, semoga apa yang kita usahakan bisa bermanfaat, memang dalam hal HIV/AIDS banyak kendalanya, tapi kalo tidak mencoba berbuat sesuatu kendala itu hanya akan menghantui dan tidak ada jalan keluarnya. Semoga bermanfaat.

21 Tanggapan to “Perhatikan juga anak HIV/AIDS”

  1. astri Says:

    pertamax
    nyoba htspot di kos2an

  2. binchoutan Says:

    mengerikan juga HIV/AIDS ini dampaknya kepada bayi dalam kandungan..

    hhmm dok ada yang bilang gini..
    kalo HIV/AIDS itu kekebalan tubuhnya menurun, trus kalau penyakit Lupus?? katanya sebaliknya..berarti kekebalan tubuhnya berlebih kah?

    (^_^) numpang tanya boleh donk? 😀

  3. herru Says:

    Dok, tau gak prediksi penderita aids di surabaya? apapun angkanya, saya mah kuwatir itu adalah the tip of iceberg. Sok ajah buktikan😛

  4. GRaK Says:

    sepakat pak🙂

  5. dokterearekcilik Says:

    @astri
    lumayan lancar hotspotnya ya

    @binchoutan
    Kalo lupus itu prinsipnya sistem kekebalan tubuh tidak mengenali sel organnya sendiri, sehingga sehingga terjadi semacam self destruction pada tubuh

    @herru
    biasanya di jawa pos sering dimuat, aku gak hafal, nanti aku carikan

    @GRak
    seneng ada yang sepakat🙂

  6. sibermedik Says:

    HINDARI SEKS BEBAS & NARKOBA!!!!!!!

    Btw, sebaiknya depkes mendata para pengidap HIV lalu ditransmigrasikan ke sebuah pulau….eng..ing..eng..BANTAI pakai gas Sarin…dah…habis perkara!!

  7. cakmoki Says:

    zidovudin tunggal gak disediakan karena *mungkin* belum ada MoU tentang Pentunjuk Teknis-nya Mas, antara lain: amplopisasi, tali asih, credit nota, dll hahaha *mode su’udhon mode:ON*

  8. Astri Says:

    Btw, sebaiknya depkes mendata para pengidap HIV lalu ditransmigrasikan ke sebuah pulau….eng..ing..eng..BANTAI pakai gas Sarin…dah…habis perkara!!

    Komentar kayak gini yang harus digassarinkan… Aku menyayangkan banget komentar seperti ini muncul dari kalangan medis baca (mahasiswa kedokteran), gak semua penderita HIV/AIDS itu pelaku seks bebas dan pemakai narkoba, contohnya anak2 yang disebut dalam postingan ini atau pasangan yang tidak diberitahu bahwa dia pengidap HIV + atau karena darah yang tercemar.
    Stigma membuat orang2 yang berisiko tinggi tertular menjadi takut memeriksakan diri atau lebih jelek lagi membuat dia ‘balas dendam’ dengan berbagi penyakit.
    Benar2 komentar yang kontraproduktif😦 kalo orang kesehatan aja udah mikir kayak gitu, gimana masyarakat awam😦

  9. Iyas Says:

    ojo nesu dokter astri, mungkin si mas cybermedicnya hanya mengungkapan perasaan kebanyakan masyarakat yang masih nda mudeng masalah hiv/aids.

  10. almascatie Says:

    inilah bukti paleng nyata antara perbuatan ortu dan korban adalah anak tak berdosa
    T_T

  11. sibermedik Says:

    @dr.As3
    Maksud saya kenapa harus memperingati hari AIDS?Kita terlalu mengkultuskan AIDS sebagai pembenaran HAM bagi “korban” nya, padahal angka kematian akibat AIDS lebih kecil dibandingkan penyakit2 infeksi lain macam Hepatitis atau Gastroenteritis.

    Itulah beda pemikiran orang Orientalis sok humanis dengan kita sebagai tenaga medis. Kita tau juga peny.degeneratif, infeksi lbh bnyk dibanding AIDS, tapi karena pelaku AIDS lebih kontroversial (Causa Sex Bebas & Narkoba) jd lbh bnyk dibahas.

    Saya s7 penderita AIDS jgn diasingkan, TAPI HARUS DIKONTROL!!
    Kasus di Jogja & Solo dimana transmisi lewat Jarum yang sengaja diletakkan “Oknum” penderita AIDS di kursi pusat perbelanjaan merupakan bukti dimana penderita pun berbahaya bagi kita.
    So, mana yg terbaik? Mencegah atau mengobati?

  12. sibermedik Says:

    Obat macam antiretroviral dengan menghambat transkripsi &translasi protein Virus hanya sebatas memperlambat perkembangan virus…biaya pun mahal..angka kesembuhan pun rendah…itupun harus diperhitungkan.
    IMun tubuh pun tidak akan mampu mengimbangi, kasus TBC pada penderita HIV merupakan bukti lemahnya imunitas penderita. Ini sangat berbahayabagi lingkungan sekitar yang dapat tertular TBC dahulu sebelum terinfeksi HIV (terutama bayi & anak2).

    Maaf kalo agak “terus terang”..dan maaf kalo ada yang salah..maklum masih miskin ilmu.

  13. Iyas Says:

    saya rasa, sekarang pemerintah telah sedikit peduli dengan membantu penderita aids menyediakan obat anti retroviral yang murah bahkan gratis, untuk mengkontrol hiv/aids ini yang repot sebab harus semua unsur dari pemerintah dan masyarakat ikut terlibat. salah satu peran komunitas medis adalah untuk memberitahukan dan menyebarluaskan mengenai hiv/aids sehingga masyarakat jadi mudeng dan tau bagaimana harus bersikap kepada penderita sehingga tidak menimbulkan stigma seperti kata dokter astri.
    coba kita lihat lagi kebelakang kenapa di solo dan jogja sampai terjadi seperti itu, mungkin mereka jengkel karena dikucilkan dan dianggap sebagai sampah masyarakat, jadinya mereka melakukan hal tersebut untuk balas dendam. ini hanya salah satu kemungkinan
    lalu kalo ditanya mana yang lebih baik mencegah atau mengobati ? sulit mas cyber dua-duanya wajib dilaksanakan, buat yang belum terkena yach kita cegah jangan sampe kena. lalu buat yang udah kena yach kita bantu ngobati dan memberikan dukungan agar mereka tidak salah jalan lagi.
    itu sih menurut saya hehehehhe

  14. sibermedik Says:

    @iyas
    makasih dok nasehatnya..iya niy kayaknya SiberMEdik terlalu “sadis”, maklum kalo nggak dikasih Shock Terapi masyarakat g akan takut tentang bahaya AIDS.

    tips: coba nonton film: 28 Weeks Later…..

  15. dokterearekcilik Says:

    @buat semua yang komentar
    Waah lha aku tinggal bbrp hari kok jadi rame gini …. Yang saya bahas kan anak dengan HIV/AIDS karena transmisi dari ortu, para anak & bayi kan belum kenal narkoba dan free sex. Lha kok pembicaraan jadi sampe gas sarin segala, anak anak itu kan belum ngerti apa apa kok mau “dibunuh” ama sibermedik. Btw apa sibermedik udah pernah membantu merawat px HIV/AIDS ??? saya pernah ngrawat anak dengan HIV/AIDS dan masalahnya tidak sekedar ngobati tapi berbagai masalah sosial yang berhubungan dengan keberadaan px tersebut jadi masalah. Mungkin ada baiknya mencoba berinteraksi dengan ODHA barulah kita lebiih tahu bagaimana kesulitan mereka.

  16. Astri Says:

    Sip say…
    I agree with you🙂

  17. itikkecil Says:

    iya dok, dari sekian progam pencegahan HIV di Indonesia, masalah anak dengan HIV dan AIDS ini belum dianggap masalah penting.

    tapi nanti kalau kasusnya sudah meledak atau ada donor yang mau bantu , baru sibuk semua

  18. bangbadi Says:

    Masalah AIDS harus segera ditindak oleh pemerintah, makin banyak anak di Indonesia yang terkena virus ini.

  19. sibermedik Says:

    ok…maaf dok..ngrecoki “rumah” dokter…(blog maksude).

    klo g brkenan delete aja dok coment saya…gpp kq.

  20. dokterearekcilik Says:

    @itik kecil
    iya mestinya jangan gitu ya

    @bangbadi
    Ayo … pemerintah, jangan diem aja, komentar dong di blog ini

    @sibermedik
    salah satu kandidat presiden US “dijatuhkan” karena pada tahun 1992 pernah berkomentar bahwa penderita HIV/AIDS harus dikarantina. Apa yang kita ucapkan hari ini bisa jadi masalah atau ganjalan pada karir dan masa depan kita. Maka seperti kata hadis; jagalah lidah agar engkau selamat

  21. Saatnya memilih….. « Itik Kecil Says:

    […] Perhatikan juga anak HIV/AIDS – dokterearekcilik […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: